Tampilkan postingan dengan label Keajaiban Binatang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keajaiban Binatang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 September 2012

Ilmuwan : Dinosaurus Penguasa Air, Bukan Darat

Selama ini kita menganggap dinosaurus adalah hewan besar yang menguasai daratan. Jika 65 juta tahun lalu, meteor selebar 15 kilometer tidak jatuh di Semenanjung Yukatan dan memicu kepunahannya, tak bakal manusia bisa mendominasi Bumi.

Namun, seorang ilmuwan dari Crambridge menawarkan pendapat berbeda. Bahwa kaki dan ekor besar dinosaurus tak ideal u
ntuk berkeliaran di daratan. Ilmuwan itu, Brian Ford berpendapat, dinosaurus adalah hewan air.

Ford yang adalah ahli biologi sel mengatakan bahwa dengan berpikir dinosaurus adalah binatang air, akan menjelaskan segala pertanyaan, juga merevisi citra hewan purba itu dalam Film "Jurassic Park" di mana ia berlarian di atas rumput.

Kemungkinan baru ini juga akan menjawab misteri yang dihadapi para arkeolog, yang meski menemukan jejak kaki dinosaurus, namun tak menemukan jejak ekornya, seakan hewan itu menghabiskan energinya agar buntutnya tetap menggantung ke udara.

Dalam teorinya yang radikal, dinosaurus diduga menghabiskan sebagian besar waktunya di danau sedalam 15 sampai 30 kaki, atau 4,5 sampai 9 meter. Ekor besar binatang itu berfungsi membantunya berenang. Jejak kaki mereka -- yang belakangan ditemukan -- dibuat di atas lumpur di kedalaman air, yang kemudian mengering oleh waktu.

Ford menambahkan, hal itu menjelaskan mengapa ekor dinosaurus besar, tak seperti gajah dan badak yang kecil.

Ford, yang mengemukakan teorinya dalam majalah sains, Laboratory News menegaskan, "saya yakin, dinosaurus adalah mahluk air," kata dia. "Mereka punya tubuh yang raksasa dengan ekor besar yang berotot, yang akan lebih baik digunakan untuk membantu mereka berenang," kata dia.

Selama ini, dia menambahkan, dinosaurus digambarkan berdiri di daratan luas yang kering. Namun ia yakin, adegan itu sejatinya, hewan tersebut sedang berdiri di danau dangkal. "Hewan itu berkembang biak di masa ketika Bumi ditutupi danau dangkal, di mana lumpur di dasar danai akhirnya membentuk lapisan batuan Liassic.

Dia percaya, ini juga menjelaskan mengapa banyak dari dinosaurus - yang beratnya sampai 100 ton hanya memiliki dua kaki kecil - sedangkan hewan besar modern, gajah dan badak, memiliki empat.

Ford bersikukuh teorinya masuk akal. Ekor berotot besar akan sangat tak praktis, seperti yang digambarkan dalam gambar konvensional. Sementara, jejak kaki fosil yang berlimpah tidak menunjukkan dinosaurus menyeret ekornya.

"Mereka mengunakan air untuk mendukung berat mereka saat berdiri, mengatur temperatur, dan menyediakan habitat makanan. Semua kajian ilmiah, film Hollywood, karya seni, semuanya, harus direvisi."

Beberapa dinosaurus besar seperti Spinosaurus dikenal mengkonsumsi ikan, sementara sebagian besar lainnya adalah dinosaurus pemakan daun selain dari karnivora T-Rex.

Selama era dinosaurus 55 juta tahun lalu, Bumi jauh lebih panas dan Ford yakin, suhu kolam yang 37 derajat Celcius akan lebih nyaman.

Namun, ide ini dibantah Dr Paul Barrett, seorang paleontolog di Museum Sejarah Alam di London. Dia mengatakan, ide dinosaurus binatang air sejatinya sudah populer pada tahun 1920-an.

"Tetapi sejak 1960-an kami telah membuktikan, bentuk tubuh dinosaurus memiliki lebih dari cukup kekuatan di otot kaki yang memungkinkan mereka bergerak dengan mudah di atas tanah," kata dia.

Justru, dinosaurus tak bakal bertahan di dalam air. "Mereka akan kesulitan bernapas, lambat bergerak di sekutar lumpur. Mereka mungkin tinggal di dekat air atau pergi ke dalamnya kadang-kadang untuk menenangkan diri. Tapi aku hanya tidak membeli teori bahwa mereka hidup di dalamnya."


sumber : vivanews.com

Rabu, 26 September 2012

Cairan Tomcat Mematikan Sel Kulit

TASIK - Tomcat merupakan sejenis kumbang yang memiliki racun berupa cairan paederin di dalam perutnya. Racun kumbang ini dapat menyebabkan matinya sel kulit yang terkena cairan itu.

Hal itu diungkapkan petugas Puskesmas Bantar, Kota Tasikmalaya Susilawati saat penyuluhan tentang sifat dan bahaya racun Tomcat untuk manusia di Perumahan Aboh, Sukamulya, Bungursari, seperti diberitakan Radar Tasikmalaya (Grup JPNN).

“Untuk pertolongan pertama jika kulit terkena racun Tomcat, cuci kulit dengan sabun dan alirkan air kalau air tidak ada gunakan air liur kita. Karena air liur mengandung basa meskipun tidak terlalu tinggi seperti sabun,” kata Susi di hadapan sejumlah warga.

Selain menggunakan sabun, luka akibat racun Tomcat juga dapat dikompres menggunakan air dingin atau es. Hal itu dimaksudkan untuk mencegah penyebaran racun melalui pembuluh darah. Teorinya dalam keadaan dingin pembuluh darah akan menyempit sehingga akan memperlambat penyebaran racun.

Jika terkena cairan Tomcat, maka kulit yang terkena juga tidak boleh digosok karena akan mempercepat penyebaran racun ke anggota tubuh lainnya.

Kulit ditempeli Tomcat, warga juga diminta tidak memecahkannya atau mematikannya di atas kulit, tetapi dibuang menggunakan kertas atau ditiup sampai Tomcat itu pergi. “Yang berbahaya itu bukan gigitannya tapi cairan di tubuhnya. Kalau Tomcat itu pecah di lantai, segera bersihkan agar tidak mengenai yang lain. Karena paederin itu menguapnya lama,” jelasnya.

Efek dari racun paederin kata dia dapat menimbulkan rasa panas, nyeri ringan dan kadang diikuti rasa gatal-gatal. Setelah 12 jam kulit yang terkena racun akan mati dan akan timbul gelembung berisi nanah. Untuk luka ringan akibat paederin korban bisa mengoleskan salep jenis steroid (mereknya macam-macam). Salep jenis ini bisa dibeli di dapatkan di puskesmas atau apotek.

“Untuk penanggulangan pakai salep jenis steroid. Kalau yang sudah jadi bisul pakai salep yang mengandung antibiotik tapi jangan terlalu banyak. Oleskan tipis saja, kalau terlalu tebal tidak baik untuk kulit,” pungkasnya.

Tiga hari sebelum muncul pemberitaan serangan Tomcat di Jawa Tengah, salah seorang siswa sekolah Muhamadiyah di Sambongjaya sudah terkena racun Tomcat. Hanya tidak ada yang mengetahui, pihak Dinas Pertanian yang datang ke sekolah langsung meminta para siswa membuat ramuan nabati untuk menangani siswa yang terkena tersebut dan kini telah sembuh.

“Tiga hari sebelum ada berita di Jawa Tengah itu sudah ada kejadian di sekolah Muhamadiyah, Sambong Jaya. Memang sudah saya informasikan cara penanggulangannya. Kemudian karena adanya di asrama putri supaya tidak mengganggu pencemaran polusi oleh racun saya menganjurkan pestisida nabati,” papar Yayat Hidayat, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) DPP Kecamatan Kawalu dan Kecamatan Indihiang saat penyuluhan kemarin.

Pestisida nabati dapat dibuat dari daun sirsak yang dicampur dengan detergen dan direndam selama 24 jam. Kemudian cairan tersebut nantinya disemprotkan kepada wilayah atau dinding yang ditempeli Tomcat.

Penyemprotan terhadap Tomcat menurutnya akan lebih efektif dilakukan pada sore hari. Hal itu agar pestisida tidak mudah menguap dan bisa langsung membunuh Tomcat.

Jika dilakukan siang atau pagi hari, maka pestisida yang disemprotkan akan mudah menguap sehingga kurang efektif untuk membunuh Tomcat.

“Penyemprotan lebih baik sore hari. kalau siang hari terkena sinar matahari langsung itu menjadi tidak efektif. Tapi kalau langkah awal (pencegahan datangnya Tomcat) padamkan lampu di malam hari. Dia biasanya menyenangi cahaya. Kalau lampu sudah dipadamkan (Tomcat) akan hilang,” katanya.

Pemusnahan Tomcat menurut dia sebenarnya memiliki segi kerugian bagi petani, karena hama wereng coklat pada padi merupakan makanan dari kumbang ini.
Penyerangan Tomcat kepada manusia diperkirakan karena habitatnya disawah sudah terganggu.

Diantaranya, tidak adanya batang padi yang mengandung hama bereng coklat. Biasanya kata dia setelah dipanen batang padi yang tersisa masih ditempeli hama bereng, binatang ini akan memangsanya. Namun jika batang dipangkas hingga ke akarnya, maka binatang ini kehilangan makanan dan akan mulai berpindah ketempat lain. (pee)

sumber : JPPN.COM

Kemampuan Misterius Orangutan Sumatera

Orangutan Sumatra memiliki trik yang cerdik untuk menunda masa puber hingga memiliki kemampuan melawan yang jantan lebih kuat. Kemampuan ini tidak ditemukan pada spesies primata lain, seperti saudaranya di Kalimantan. 

Peneliti mencoba menjelaskan perilaku aneh ini. Mereka menemukan mekanisme penangguhan kematangan seksual berlangsung hingga 10 tahun. Hewan primata ini tidak akan memasuki masa puber hingga usia 30 tahun. 

Orangutan jantan biasanya mulai bereproduksi ketika mencapai usia 15 tahun. Tapi, mereka tidak akan terpesona dengan yang betina hingga telah mencapai karakteristik seksual sekunder, seperti peningkatan massa otot. 

Ketua tim peneliti Universitas South Florida, Amerika Serikat, Gauri Pradha seperti dilansir dari Dailymail.co.uk, mencatat penundaan masa puber orangutan Sumatra bisa berlangsung hingga 10 tahun. 

Tim ini juga menemukan simpanse Sumatra berbeda dengan Kalimantan. Mereka akan memonopoli betina selama beberapa minggu dalam satu periode.

Karakteristik lain yakni orangutan jantan menunggu rambut mereka tumbuh memanjang pada lengan dan punggung mereka. Jakun yang lebih besar juga bisa membuat mereka menggoda calon pasangannya.

Orangutan muda tampak menikmati tambahan 10 tahun sebagai "anak-anak". Mereka menggunakan waktu itu untuk membangun kekuatan individu. 

Kelompok orangutan jantan yang terdiri dari anggota paling dominan mengotrol kelompok betina. Pihak ini lebih sering mengalami insiden dalam perkembangan mereka. Pejantan tangguh ini akan memasuki masa puber ketika bisa menggulingkan pejantan yang paling dominan dalam kubunya.

Dari kemampuan ini, tim menemukan kaitan yang kuat antara masa puber yang tertunda dengan kematian usia muda.


sumber : vivanews.com

Lalat..makhluk hebat..

Kuasa penawar yang ada pada lalat memang menakjubkan. Dalam sebuah buku karangan Dr. Ghyath Hasan al-Ahmad bertajuk al-Tibb al-Nabawi fi Daw al-Ilm al-Hadith (Prophetic Medicine in the Light of Modern Science) terbitan tahun 1955, dilaporkan tentang satu eksperimen yang dilakukan oleh Dr. Nabîh Da’ish di Universiti Raja Abdul Aziz di Riyadh. Beliau menyediakan sepuluh kultur bakteria (bacterial cultures) dan dimasukkan seekor lalat ke dalamnya tanpa dicelupkan lalat itu ke dalam kultur. 

Beliau kemudiannya menyediakan 10 lagi kultur bakteria dan dimasukkan serta dicelupkan lalat ke dalamnya sebanyak sekali. Selepas itu disediakan pula lagi 10 kultur bakteria dan pada kali ini lalat dicelupkan ke dalam kultur sebanyak dua kali. Perbuatan ini disusuli dengan penyediaan 10 lagi kultur bakteria dan lalat dicelupkan ke dalamnya sebanyak tiga kali. Dr. Nabîh Da’ish mendapati kuman terus hidup dan membiak dalam kultur yang pertama yang mengandungi lalat yang tidak dicelup. 

Dalam kultur yang kedua kuman-kuman tidak mampu membiak malah sebahagiannya terbunuh dan aktiviti antikuman ini meningkat dalam kultur ketiga dan keempat. Penemuan ini menunjukkan pengeluaran bahan antikuman tertentu oleh lalat ada perkaitan dengan perbuatan mencelup lalat ke dalam cecair. Ia selari dengan sabda nabi yang disebutkan sebelum ini. (Untuk perincian sila baca buku ‘Perubatan Islam dan Bukti Sains Moden’ karangan Dr. Danial bin Zainal Abidin, terbitan PTS Publication)
~~~